01 September 2009

Tradisi Apostolik

oleh
Rm. Yohanes Bambang

Para theolog menyebut pengajaran Alkitab ini sebagai “ Tradisi Apostolik ” . Tradisi Apostolik ini, melingkupi apa yang Para Rasul telah hidupi, lihat, saksikan dan kemudian catat di dalam kitab-kitab Perjanjian Baru. Para Episkop dan Para Prebiter yang kepada merekalah Para Rasul telah menunjuk sebagai para penggantinya, telah mengikuti pengajaran Para Rasul. Bagi mereka yang telah melenceng dan menyimpang dari pengajaran Para Rasul ini, telah memisahkan diri mereka sendiri dari Gereja. Orang – orang yang demikian itu telah dipandang sebagai Para Bidat dan Skismatik (pemecah- belah), sebab mereka telah mempercayai secara berbeda dari apa yang Para Rasul dan

Para pengganti – lanjut mereka ajarkan. Ini membawa pada fokus bahwa Gereja itu sebagai pusat kesatuan semua orang Kristen. Ini adalah karakteristik Tradisi Ekklesiastikal ( TradisiGereja ). Gereja adalah gambar dan refleksi dari Tritunggal Mahakudus mengingat tiga pribadi Tritunggal Mahakudus itu hidup, tinggal dan bertindak di dalam Gereja. Sang Bapa melimpahkan kasihNya, Sang Putra memberikan kesetiaanNya, dan Sang Roh Kudus penghiburanNya.

Hanya di dalam Gereja kita dapat melihat, merasakan dan menghidupi ( hidup dalam ) kehadiran Tritunggal Mahakudus di dalam dunia. Di dalam menjelaskan hal ini, Js. Paulus dalam suratnya menegaskan : ” Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang ” jauh ” dan damai sejahtera kepada mereka yang “ dekat ” , karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar Para Rasul dan Para Nabi, dengan Kristus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh ” (Ef 2:19-22).

Kemanunggalan Tritunggal Mahakudus sebagai realita yang fundamental di dalam Gereja dan dari Gereja, serta memerlukan suatu kesatuan yang nyata di antara segenap anggotanya. Segenap anggota dari Gereja hidup di dalam ikatan kasih dan kesatuan melalui Tritunggal Mahakudus. Kebenaran ini dijelas-tegaskan oleh Js. Petrus dalam suratnya bahwa : “ Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang- Nya yang ajaib : kamu yang dahulu bukan umat Allah, tetapi sekarang telah menjadi umatNya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan ” (1 Pt 2:9-10).

Gereja telah dibangun sebagai suatu realita sejarah pada hari Pentakosta, dengan turunnya Sang Roh Kudus di atas diri Para Rasul : “ Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, dimana mereka duduk dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata- kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya “ (Kis 2:1-4).

Hanya di dalam Gereja, dimana Tritunggal Mahakudus hidup dan bertindak secara konstan didapatkan pengajaran Kristus, wahyu kebenaran itu sendiri sebagaimana yang telah diterima dan diterus-sampaikan oleh Para rasul itu, tinggal dan menopang. Dengan demikian jelas bahwa kebenaran dalam kepenuhannya tidaklah terdapat di luar Gereja, karena baik Kitab Suci maupun Tradisi itu adalah di dalam Gereja. Karena fakta inilah mengapa Js. Paulus menegaskan kepada jemaat Galatia : “ Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu Injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepada kamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi : Jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu Injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia. Jadi bagaimana sekarang, adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus ” (Gal 1:8-10). Js. Paulus juga menulis kepada murid terkasihnya Timotius untuk mengikuti secara ketat “ ajaran tentang iman kita dan mengumandangkan petunjuk-petunjuk yang ia telah terima dari dia dan menghindari takayul dan dongeng-dongeng nenek moyang ” (1 Tim 4:4-7). Ia juga memperingatkan orang-orang kolose untuk menghindari perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia (Kol 2:22), dan sebagai gantinya untuk mengikuti Kristus : “ Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. Hati-hatilah supaya jangan ada yang menawan kamu dengan dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun tumurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus. Sebab di dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke Allahan ” (Kol 2:6-9)

Pengajaran ini atau Tradisi Apostolik telah diterus-sampaikan dari Para Rasul itu sendiri kepada para pengganti-lanjut mereka yaitu : para episkop dan para presbiter. Js. Klemen Episkop dari Roma pada abad kedua, dan barangkali adalah seorang murid dari Para Rasul, menjelaskan kebenaran sejarah ini; dikatakan : “ Para Rasul telah memberitakan kepada kita Injil yang telah mereka terima dari Yesus Kristus, dan Yesus Kristus adalah utusan Allah, dengan kata lain, Kristus datang dengan suatu pesan dari Allah, dan Para Rasul dengan suatu pesan dari Kristus. Karena itu kedua pengaturan yang rapi ini, aslinya dari kehendak Allah. Jadi, setelah menerima petunjuk-petunjuk mereka dan secara penuh dijamin melalui kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus, dan ditegaskan di dalam Iman oleh Firman Allah, mereka berjalan terus, dilengkapi dengan kepenuhan Sang Roh Kudus, untuk memberitakan Kabar Baik bahwa kerajaan Allah sudah dekat. Dari daratan ke daratan secara berurutan dari kota ke kota mereka telah berkotbah, dan dari antara para petobat paling awal, telah menunjuk manusia yang kepadanya, mereka telah diuji oleh Sang Roh untuk bertindak sebagai para bishop dan diaken bagi para orang percaya di masa yang akan datang (Letter to the Corinthians, ch. 42). Dari sini seseorang dapat melihat secara jelas, bagaimana berita keselamatan itu aslinya dari Allah Sang Bapa yang telah diajarkan oleh Yesus Kristus, disaksikan oleh Sang Roh Kudus, diberitakan oleh Para Rasul dan telah diterus-sampaikan oleh mereka kepada Gereja melalui para imam yang mereka sendiri telah tunjuk. Ini telah menjadi “ Tradisi yang tanpa salah dari pemberitaan Apostolik ” sebagaimana telah diungkapkan oleh Eusebius dari Kaesarea, Bishop pada abad keempat, yang telah disebut sebagai “ Bapa Sejarah Gereja ” (Church History, IV,8).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar